since 1995 to make fins from fiberglass material .. until now ..
kretivitas continues to grow, I am interested in making this, because at that time was very difficult to get, in addition to the provision of the tourists who visit cimaja, then because of this need, I try to make the fins of the pipe material paralon PPC. enough for its own needs, but demand a lot of friends started to order, then I wondered how where do you get the fins from fiberglass material, after asking here there, then I started making fins made from fiberglass, the first obstacle I found was, easily broken at the foot of fins, and finally .. until today I was able to measure the right not to be broken and can be made spots, hard and being ... If you are using artificial fins, I give you a lifetime warranty ... and definitely use you satisfied
Hoboken
Jumat, 20 Januari 2012
Selasa, 20 Desember 2011
segera hentikan penambangan batu di sungai cimaja..
dampak dari penambangan pasir dan batu di sungai cimaja akan sangat terasa sekali, selain dari aliran air menuju desa cimaja dan desa karang papak akan menggantung... dan dampak yang terasa saat ini adalah semakin surut nya Ombak surfing di pantai cimaja, karena ter jadai sedimentasi di muara sungai cimaja, mengakibatkan arus bawah laut menjadi terhalang, sehingga Ombak di cimaja sudah konsisten lagi.. harus menunggu datangnya sweel.
satu hal yang menjadi pertanyaan adalah.. kenapa pengrusakan alam ini terus di biarkan.. seolah pemerintahan setempat menutup mata dengan banyak kericuhan yang terangkat ke permukaan akibat dari penambangan tersebut...
bapak wakil gubernur pun pernah datang ke desa karang papak, untuk memberikan sumbangan ke SD marinjung, dan salah satu warga mengungkapkan permasalahan ini... dan beliau pun tahu...
kami berharap selain dari, kerugian yang akan dirasakan oleh kedua desa,setelah matrial habis di tambang, dan perusahaan meninggalkan wilayah ini, maka akibatnya akan sangat patal untuk kedua desa tersebut. juga berdampak pada pantai pariwisata surfing cimaja.segera hentikan Penambangan batu tersebut.
dampak dari penambangan pasir dan batu di sungai cimaja akan sangat terasa sekali, selain dari aliran air menuju desa cimaja dan desa karang papak akan menggantung... dan dampak yang terasa saat ini adalah semakin surut nya Ombak surfing di pantai cimaja, karena ter jadai sedimentasi di muara sungai cimaja, mengakibatkan arus bawah laut menjadi terhalang, sehingga Ombak di cimaja sudah konsisten lagi.. harus menunggu datangnya sweel.
satu hal yang menjadi pertanyaan adalah.. kenapa pengrusakan alam ini terus di biarkan.. seolah pemerintahan setempat menutup mata dengan banyak kericuhan yang terangkat ke permukaan akibat dari penambangan tersebut...
bapak wakil gubernur pun pernah datang ke desa karang papak, untuk memberikan sumbangan ke SD marinjung, dan salah satu warga mengungkapkan permasalahan ini... dan beliau pun tahu...
kami berharap selain dari, kerugian yang akan dirasakan oleh kedua desa,setelah matrial habis di tambang, dan perusahaan meninggalkan wilayah ini, maka akibatnya akan sangat patal untuk kedua desa tersebut. juga berdampak pada pantai pariwisata surfing cimaja.segera hentikan Penambangan batu tersebut.
BKDK Tolak Penambangan Batu di Sungai Cimaja
Selasa, 23/06/2009 - 00:22
SUKABUMI, (PRLM).-Relawan Budak Kidul Desa Karangpapak (BKDK), Kec.
Cisolok, Kab. Sukabumi yang bergerak di bidang lingkungan hidup,
menentang aktivitas ekploitasi penambangan batu sungai di aliran Sungai
Cimaja. Alasannya, aktivitas penambangan itu akan menimbulkan dampak
erosi di bantaran sungai sehingga dapat menyebabkan bencana
banjir yang merendam areal pesawahan warga. "Dengan adanya penambangan
batu sungai itu jelas-jelas akan menimbulkan erosi. Oleh karena itu,
dari awal kami tidak setuju dengan adanya aktivitas penambangan
tersebut," kata Ketua Relawan BKDK, Ade Rabig, ketika ditemui di Desa.
Karangpapak, Kec. Cisolok, Senin (22/6).
Menurut dia, dampak
lingkungan dari penambangan batu sungai itu berpotensi akan menimbulkan
banjir bandang terutama di kawasan Gunung Cabe, bila musim hujan tiba.
Ancaman banjir bandang "si dongkol" itu bisa merendam sedikitnya 10
hektare sawah warga termasuk mengancam 15 rumah di Kp. Marinjung Girang.
"Masyarakat Ds. Karangpapak yang punya sawah dan rumah di dekat
bantaran sungai, sekarang ini lagi ketar-ketir takut terkena bencana
banjir bandang bila musim hujan tiba. Apalagi posisi pesawahannya lebih
rendah dibanding permukaan sungai," tutur Ade.
Dikatakan,
ancaman banjir bandang yang dapat merendam pesawahan warga itu sebagai
dampak adanya aktivitas ekploitasi penambangan batu sungai yang
dilakukan oleh CV. Muda Bakti. Sebab, dampak penambangan itu posisi alur
sungainya kini menjadi miring mengarah ke areal pesawahan warga Ds.
Karangpapak. Sementara, eksploitasi batu sungai tersebut sebagai bagian
pekerjaan dalam projek normalisasi alur sungai Cimaja yang diprogramkan
Dinas PSDA Jabar.
"Terus yang lebih fatal lagi, sampai sekarang
aktivitas penambangan itu belum mengantongi izin lingkungan dari warga
Karangpapak. Padahal ancaman banjir bandang itu tak hanya mengancam Ds.
Cimaja, Kec. Cikakak saja, melainkan Ds. Karangpapak. Kec. Cisolok pun
akan terkena bencananya. Sebab, sungai ini perbatasan antara dua
kecamatan," ungkapnya. (A-67/A-50)***
Protes Warga Karangpapak Diselesaikan
Senin, 11/08/2008 - 20:44
SUKABUMI, (PRLM) - Pengajuan protes dari warga Ds. Karangpapak, Kec.
Cisolok terhadap pengambilan batu sungai di Sungai Cimaja, sudah
diselesaikan secara musyawarah mufakat dengan berbagai pihak terkait. Di
antaranya BPD Karangpapak beserta LSM dan tokoh masyarakat, pengusaha
dan juga BPD Ds. Cimaja, Kec. Cikakak.
"Pada intinya, permasalahan dengan warga Karangpapak sudah diselesaikan
secara musyawarah dalam rapat beberapa hari lalu," kata Camat Cikakak,
Obon Supardi, S.I.P., M.M., ketika ditemui di kantornya, Senin (11/8).
Ia menyebutkan, masalah itu sudah diselesaikan setelahnya pengusaha
bersedia memberikan kontribusi dari hasil pengambilan batu untuk kas
Desa. Karangpapak. Hal itu sudah disepakati masyarakat yang diwakili BPD
(Badan Permusyawaratan Desa). Namun besarannya akan dibicarakan lagi
oleh desa dan BPD-nya. Pemberian kontribusi itu mengingat Ds.
Karangpapak merupakan daerah perbatasan dengan Ds. Cimaja, Kec. Cikakak
yang dipisahkan Sungai Cimaja.
"Akan tetapi, saya minta
kontribusi yang diberikan harus lebih kecil dari pada Ds. Cimaja. Sebab,
masyarakat Ds. Cimaja yang terkena dampak langsung dari musibah banjir
bandang luapan Sungai Cimaja. Ini menyangkut keselamatan manusia.
Sedangkan di Karangpapak yang kena sebatas lahan sawah saja. Jadi, sudah
seyogianya Ds. Cimaja yang harus mendapatan kontribusi lebih besar,
tidak bisa disamakan dengan Karangpapak," kata Obon.
Obon menambahkan, semua perizinan dan administrasi termasuk izin
lingkungan warga sudah dilengkapi oleh pihak pengusaha. Bahkan teknis
pengerukan pun sudah sesuai prosedur teknis penambangan yang disarankan
oleh Dinas PSDA Jabar. "Secara terjadwal, PSDA provinsi melakukan
pengawasan langsung ke lokasi. Jadi, semua prosedurnya sudah ditempuh,"
katanya. (A-67/A-37).***
Mesin Pemecah Batu Menimbulkan Kebisingan
29 May 2010
Nasional
Pikiran Rakyat
SUKABUMI, (PR).-
Pengelolaan limbah batu di aliran Sungai Cimaja, Kec. Cikakak, Kab.
Sukabumi, dengan menggunakan mesin pemecah batu, menimbulkan kebisingan
yang mengganggu kenyamanan masyarakat yang berada di Kp./Desa Cimaja,
Kec. Cikakak. Bahkan sebelumnya, sejumlah anggota masyarakat di Desa
Cimaja telah melayangkan surat somasi kepada pihak pe-ngusaha
pengelolaan limbah batu agar bisa mengatasi kebisingan tersebut.
"Sekitar bulan April lalu, saya menerima keluhan dari masyarakat Desa
Cimaja yang merasa terganggu dengan kebisingan mesin pemecah batu
tersebut. Bahkan, saya juga sudah menerima tembusan surat somasi yang
dibuat warga," kata Camat Cikakak, H. Enjang Abdurohim ketika ditemui di
rumah dinasnya, Jumat (28/5).
Selanjutnya, pihak kecamatan
telah memfasilitasi pertemuan antara warga dan pengusaha untuk mencan
solusi. Awalnya, pihak pengusaha akan memindahkan mesin pemecah batu ke
lokasi lain yang relatif jauh dari permukiman warga. "Bahkan pengusaha
sempat berencana membeli tanah H. Kamal untuk pemindahan mesin pemecah
batu tersebut.
Namun karena H. Kamal tidak akan menjual tanahnya, mesin itu tidak jadi dipindahkan," kata Enjang.
Kemudian, muncul alternatif lain, yakni mesinnya harus menggunakan alat
peredam suara. Penggunaan peredam suara itu disarankan oleh Badan
Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Sukabumi. Lebih jauh Enjang menjelaskan
sebetulnya pengelolaan limbah batu di aliran Sungai
Cimaja itu
berawal dari kegiatan projek pengerukan dan pelurusan Sungai Cimaja yang
diprogramkan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Pemprov Jabar.
Ketika dikonfirmasi soal dampak kebisingan mesin pemecah batu, Asep Bob
selaku pengusaha pengelolaan limbah batu Sungai Cimaja tidak bisa
dihubungi karena handphone-nya tidak diangkat. (A-67)
Saluran Irigasi Cimaja Mengering
21 Nov 2010
Nasional
Pikiran Rakyat
Penyebabnya, Galian Pasir dan Batu di Aliran Sungai
SUKABUMI, (PR).-
Warga di Dusun II Kampung Cimaja Desa Cirnaja, Kecamatan Cikakak,
Kabupaten Sukabumi, mengeluhkan saluran irigasi di wilayah mereka yang
mengering akibat galian pasir dan batu di aliran Sungai Cimaja.
Keluhan itu disampaikan oleh warga saat mendatangi lokasi penambangan
galian yang dikelola PT Pola Cakra Persada (Prada), Jumat (19/11).
"Mereka (pengusaha galian) harus memperbaiki saluran irigasi secara
keseluruhan sehingga airnya dijamin mengalir setiap saat," ujar Asep
Supriadinata (34), warga Kampung Cimaja.
Ia mengatakan, air
irigasi itu menjadi sumber air yang digunakan oleh sebagian besar
masyarakat Cimaja. Selain untuk mengairi areal persawahan dan kolam
ikan, juga dipakai untuk kebutuhan sehari-hari warga sekitar, seperti
mandi dan mencuci.
Selain meminta perbaikan irigasi, tutur
Asep, warga pun menuntut pengusaha agar membuatkan tanggul penahan erosi
dan banjir untuk keselamatan masyarakat sekitar.
"Keringnya
saluran irigasi ini akibat dampak penambangan pasir dan batu oleh PT
Prada yang tidak dilakukan secara benar, tanpa memperhatikan dampak
lingkungannya. Pasir dan batunya terus-menerus dikeruk sehingga air
sungainya mengalami pendalaman," ujar Asep.
Akibatnya, menurut
dia, posisi air sungai berada di bawah irigasi sehingga air tidak
mengalir lancar ke saluran irigasi. "Bahkan, sejak penambangan itu
berlangsung selama dua tahun, debit air irigasi terus menyusut, bahkan
terkadang terjadi kekeringan," katanya.
Sopian (33), warga lainnya,
menambahkan, jika pengusaha galian tidak segera memperbaiki saluran
irigasi secara keseluruhan, secara jangka panjang, saluran irigasi akan
mengering. Selain merugikan kehidupan warga di Kampung Cimaja, juga bisa
menimbulkan berbagai penyakit
Seharusnya, ungkap Sopian,
pengerukan pasir dan batu di Sungai Cimaja ini ada batas kedatangannya.
"Jika mereka tidak memedulikan saran masyarakat, kami bersama warga
lainnya tak segan-segan akan menghentikan sekaligus menutup paksa lokasi
penambangan
PT Prada ini," ujarnya.
Bertanggung jawab
Ketika dikonfirmasi di tempat terpisah, Asep Saripudin, pemegang izin
penambangan PT Prada, membantah bahwa keringnya saluran irigasi Cimaja
itu akibat penambangan pasir dan batu yang dikelolanya.
Menurut
dia, mengeringnya saluran irigasi itu karena saluran irigasinya
tertutup material batu dan pasir yang terbawa banjir di aliran Sungai
Cimaja. "Fenomena alam seperti itu sudah biasa terjadi di Sungai Cimaja
ini," ucapnya.
Setiap kali terjadi banjir, kata
Saripudin, saluran irigasi pasti tertutup batu dan pasir sehingga airnya tidak mengalir.
"Kebetulan, kemarin malam di Kampung Cimaja sempat diguyur hujan lebat
sehingga Sungai Cimaja meluap. Jadi, tidak benar, kalau mengeringnya
saluran irigasi itu akibat penambangan yang kami lakukan," ujarnya
didampingi Kepala Pabrik PT Prada, Harimurti.
Meskipun
demikian, tutur Asep, pengelola galian akan bertanggungjawab sepenuhnya
jika saluran irigasi Cimaja mengalami kekeringan danlongsor akibat
penambangan PT Prada. Bahkan, pihaknya akan melakukan penanggulangan
dengan menormalkan kembali alur sungai dan irigasi sampai lancar jika
terjadi banjir dan longsor.
"Walaupun mengeringnya saluran
irigasi itu bukan akibat penambangan, kami tetap bertanggung jawab
memperbaikinya. Tadi pagi, kami mengirimkan alat berat backhoe untuk
membersihkan bebatuan dan pasir yang menutup saluran irigasi tersebut.
Setelah diperbaiki, airnya mengalir lagi," tutur Saripudin. (A-67)**
Langganan:
Postingan (Atom)







